membuat rasa kecewa di kehidupan seseorang ternyata bisa memutar balikan semua hal tentang dia terhadap diri kita, dari yang awalnya baik bisa menjadi jahat, yang awalnya jaht bisa menjadi jauh lebih jahat. dan setelah itu gw lebih memilih untuk membiarkan diri untuk kecewa dari pada membuat orang lain kecewa dan memberikan kekecewaan yang lebih besar nantinya.

gw andi pratama, orang- orang terdeket gw biasa manggil gw tama. gw anak satu- satu nya dari keluarga sederhana yang engga harmonis atau bisa disebut bukan keluarga, karna gw hanya tinggal sendiri, ibu gw meninggal saat dua tahun yang lalu itu juga setelah 8 tahun sengsara akibat penyakit anehnya setelah mengetahui ayah gw selingkuh, dan ayah gw kerjaannya pulang malem mabok pagi pergi lagi dan begitu seterusnya. dan karena keadaan yang menghendaki gw pun jadi tebiasa hidup dengan gw sendiri, walau kadang gw rindu dengan keramahan yang ada dalam sebuah keluarga.
setiap hari gw menjalani hidup gw seperti biasa, menjalani hari yang telalu membosankan, pagi berangkat kuliah walau engga ada niat sedikitpun buat kuliah (tapi memang hanya itu yang bisa menjadikan alasan gw keluar dari rumah, kalo engga bisa abis muka gw tanpa alasan karena kena pukulan ayah gw),sampe kampus masuk kantin dan berakhir dengan bertemu dengan sahabat- sahabat terbaik gw.
tapi hari ini lain, pagi tadi semua hal yang gw biasa lakuin terhambat oleh kejadian yang menyiksa perasaan gw.
setelah selesai menyiapkan semua yang pengen gw bawa ke kampus, baru aja kaki ini melangkahkan kaki keluar dari rumah, gw udah melihat kejadian yang menjijikan. ayah gw yang dari semalem engga pulang sekarang ada dihadapan gw dengan jalan sempoyongan gara- gara mabok, ia digopoh oleh wanita muda seksi yang berpakaian serba kurang.
entah gw harus malu atau apa??, ketika semua orang disekitar rumah gw memandangi aneh ke arah gw, ayah dan pe*ek perusak itu. gw coba menjauh dari ia, gw engga pengen coba untuk engga sedikitpun memperhatikan dia dengan keadaannya.
tapi ternyata bisa apa gw dengan ke egoisan yang gw punya, dengan rasa emosi dan rasa benci terhadap dia yang ngelebihin logika gw. dengan hati yang berkecamuk karena memang engga sedikitpun punya rasa simpati buat ayah gw, dan tapi akhirnya tanpa gw sadari tangan gw udah ngebantu ngangkat tubuh nya yang sudah lemas tak berdaya.
gw ngangkat dia tanpa menghiraukan sedikitpun miris- miris dari orang- orang lain yang masih melihat kearah gw, gw membawanya ke dalam rumah membopong sedikit demi sedikit tubuh besar nya menuju kursi di ruangan tamu.
tubuhnya gw dudukan diatas kursi itu, dan wanita yang tadi bersama ayah gw langsung masuk kearah kamar seperti tak punya dosa. gw berlari kecil ke arah dapur, mengambil sedikit air didalam ember dan handuk kecil. gw hampiri lagi ayah yang masih engga berdaya akibat dari alkhohol yang ia minum semalam suntuk.
setelah ada di hadapannya gw perhatikan wajah yang sudah tampak tua itu, gw perhatikan wajah yang sudah lebih dari dua puluh satu tahun ngecewain gw terus, wajah yang paling males gw liat karena rasa benci udah terlalu berlebihan terhadapnya. setelah lama memandangi wajah nya, gw pun membukakan sepatunya, membersihkan kaki nya dengan teliti, membuka kancing dikerah atasnya lalu membaringkan tubuhnya sejajar dengan kursi.
entah ini nyata atau mimpi, gw seperti engga nyangka berada sedekat ini dengan ayah gw setelah lebih dari sepuluh tahun gw engga pernah ngeberikan senyuman kepadanya, selama itu pula gw engga pernah gw mau nyapa dia walaupun gw berada dalam satu atap rumah. tapi sekarang?? entah kenapa, gw juga engga ngerti rasa kecewa yang besar terhadap dia tiba- tiba tertutup, rasa marah dan niat untuk membunuh dirinya pun tiba- tiba menghilang. padahal benci ini sudah menjadi benalu yang besar sudah tak mungkin bisa dihilangkan, mungkin saat ia tersadar nanti rasa benci dan kecewa ini terbentuk lagi, bukan karna gw pengen terus dan pengen terus ngebenci dan memelihara rasa kecewa ini, tapi semua itu pasti dia yang bakal numbuhinnya lagi.
dan saat ayah gw terbangun, benar apa dugaan gw, dia engga melihat kearah gw sedikitpun padahal gw ada didepan nya, dia dengan sadarnya melewati gw begitu aja.
andai dia tahu gw dengan rela membersihkan setiap kotoran yang ada ditubuhnya tadi, andai dia tahu gw merasakan khawatir yang besar saat melihatnya tak sadarkan diri. gw engga bisa berbuat apa- apa, gw hanya diam, membiarkan rasa kecewa ini kembali menjadi benih dan akan tumbuh lebih besar nantinya.

0 komentar:

Posting Komentar

About this blog

Ini Bukan Sebuah Catatan
Bukan Sebuah Cerita
Bukan Sebuah Karangan
Bukan Sebuah Curhatan
Bukan Sebuah Kenangan
Bukan Sebuah Impian
Ini hanya Sebuah Coretan

Bukan Djam

Pengikut

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Labels